Selamat Datang di Web Site Resmi Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta
 Sita,    25 November 2021 Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dengan Teknologi Sederhana
Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dengan Teknologi Sederhana

Pertanian ramah lingkungan saat ini menjadi concern kita dalam berbudidaya tanaman untuk menghasilkan pangan yang sehat, segar, dan juga aman. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kota Yogyakarta memiliki green house dan memanfaatkan lahan pekarangan yang ada untuk ditanami berbagai macam tanaman sayuran, seperti; tomat, terong, cabai, kailan, sawi, dan lain sebagainya. Kegiatan menanam sayuran di BPP ini merupakan semangat mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan dimulai dari lingkungan terdekat kita, yaitu tempat kita bekerja.

Salah satu faktor penting di dalam budidaya tanaman sehat adalah ketersediaan nutrisi maupun unsur hara yang sangat mempengaruhi  pertumbuhan tanaman. Dalam mencukupi kebutuhan nutrisi dan memperkuat ketahanan tanaman, BPP Kota Yogyakarta membuat pupuk organik cair (POC) dan plant growth promothing rhizobacteria (PGPR) sendiri. POC dibuat dengan metode ember tumpuk, dimana dalam prosesnya ember tumpuk ini diisi dengan limbah dapur/ rumah tangga, diantaranya adalah sisa-sisa makanan, kulit buah-buahan, sayuran, dan lain-lain. Reaktor yang digunakan untuk mengurai limbah dapur ini adalah Black Soldier Fly yaitu spesies lalat Hermetia illucens, dimana imago lalat akan masuk melalui lubang kecil ember tumpuk bagian atas. Lalat HI ini ditarik masuk oleh aroma senyawa volatil yang dihasilkan dari limbah, kemudian bertelur di dalam limbah, dan menjadi larva (magot). Magot ini bermanfaat untuk mengurai proses pembusukan limbah organik, selain itu dapat juga digunakan sebagai pakan unggas atau ikan.

Gambar 1. Proses Pembuatan Ember Tumpuk POC

Proses penguraian limbah organik ini kurang lebih selama dua bulan, kemudian akan menjadi lindi cair yang keluar dari kran bagian bawah ember tumpuk. Biasanya setelah lindi dipanen dapat disimpan lagi selama satu bulan hingga beraroma lembut di hidung, untuk menghasilkan POC yang matang dan siap diaplikasikan ke tanaman. POC ini memiliki berbagai manfaat diantaranya adalah; meningkatkan kandungan bahan-bahan organik di dalam tanah; mampu menyediakan unsur hara bagi tanaman; meningkatkan daya tahan tanaman dari kekeringan; merangsang pertumbuhan cabang-cabang, bunga, dan bakal buah; meningkatkan pembentukan klorofil daun sehingga meningkatkan kemampuan tanaman untuk berfotosintesis; serta meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman tumbuh kokoh dan kuat.

 

Gambar 2. Ember Tumpuk POC di BPP Kota Yogyakarta

Selain membuat POC, BPP Kota Yogyakarta juga membuat plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) atau bisa disebut sebagai bakteri yang tumbuh di sekitar daerah perakaran dan bersifat memacu pertumbuhan tanaman. Bakteri ini tumbuh berkoloni di sekitar perakaran dan bersifat menguntungkan bagi tanaman. Peran PGPR adalah menekan perkembangan penyakit (bioprotectant), menghasilkan hormon pertumbuhan atau fitohormon (biostimulant), meningkatkan ketersediaan makanan atau nutrisi bagi tanaman (biofertilizer), salah satu sumber PGPR adalah akar rumput-rumputan, putri malu, dan akar bambu yang tumbuh subur tanpa terserang hama atau penyakit. 

Gambar 3. Proses Pembuatan PGPR dengan Fermentor Sederhana

Pembuatan PGPR ini menggunakan biang bakteri dari akar bambu (yaitu serasah perakaran bambu yang direndam selama 2-4 hari), bahan-bahan yang lain yang digunakan sebagai media tumbuh bakteri adalah gula sebanyak 200 gram berfungsi sebagai glukosa, terasi alami sebanyak 100 gram berfungsi sebagai nutrisi yang kaya protein, air cucian beras (leri) 1 liter sebagai karbohidrat, dan enjet atau kapur sirih 1 sdm untuk menetralkan pH. Bahan-bahan tersebut dimasak dan didinginkan, kemudian dicampur dengan biang bakteri. Setelah itu dimasukkan ke dalam air matang sebanyak 16-17 liter di dalam galon, dan difermentasi secara aerob selama kurang lebih 14 hari. Proses pembuatan PGPR akan menimbulkan aroma busuk khas bakteri. Setelah proses berjalan maksimal, PGPR dapat dipanen dan dipindahkan ke jerigen atau botol, kemudian siap untuk diaplikasikan ke tanaman.

Mari kita lestarikan mikroba yang ada di alam untuk keselamatan tanaman kita. Tanaman akan tumbuh baik jika kita merawatnya dengan baik pula. Seperti halnya manusia yang membutuhkan asupan nutrisi dan gizi cukup untuk daya tahan tubuh, begitu pula tanaman yang kita tanam membutuhkan nutrisi dan unsur hara yang cukup untuk memperkuat ketahanannya dari faktor-faktor yang dapat mengganggu dan menghambat pertumbuhan tanaman. Salam pertanian ramah lingkungan.

 

Michelle Rizky Yuditha, SP

(POPT Kota Yogyakarta)

Pertanian POC PGPR
  (178 nilai)
Pencarian
Video Youtube
Polling
Apakah Website ini bermanfaat ?

Hasil Polling
Sangat Bermanfaat65.01%
Cukup Bermanfaat10.32%
Bermanfaat7.79%
Kurang Bermanfaat7.22%
Agenda Rapat
Senin / 08 Agustus 2022
08:00 WIB ~ 10:00 WIB
Ruang Rapat Mas Kirana

Senin / 08 Agustus 2022
13:00 WIB ~ 15:00 WIB
Ruang Rapat Raja Bagus

Senin / 08 Agustus 2022
13:00 WIB ~ 15:00 WIB
Ruang Rapat Mas Kirana

Selasa / 09 Agustus 2022
09:00 WIB ~ 13:00 WIB
Ruang Rapat Raja Bagus

Selasa / 09 Agustus 2022
12:30 WIB ~ 15:00 WIB
Ruang Rapat Mas Kirana

Selasa / 09 Agustus 2022
13:00 WIB ~ 15:00 WIB
Ruang Rapat BPP

Rabu / 10 Agustus 2022
12:30 WIB ~ 15:00 WIB
Ruang Rapat Mas Kirana

Rabu / 10 Agustus 2022
12:30 WIB ~ 15:00 WIB
Ruang Rapat Raja Bagus

Kamis / 11 Agustus 2022
12:30 WIB ~ 15:00 WIB
Ruang Rapat Mas Kirana

Selasa / 16 Agustus 2022
09:00 WIB ~ 13:00 WIB
Ruang Rapat Raja Bagus

Indek Standar Pencemar Udara (ISPU)

Tanggal


PM10

PM25

CO

NO2

SO2

O3

HC


BAIK : 0-50
SEDANG : 51-100
TIDAK SEHAT : 101-200
SANGAT TIDAK SEHAT : 201-300
BERBAHAYA : ≥ 301

Tautan Terkait