Pengelolaan Kompos Praktis, Hasilnya Ekonomis

Kompos adalah pupuk organik yang dihasilkan dari proses dekomposisi bahan- bahan organik oleh mikroorganisme. Pembuatan kompos dapat dilaksanakan dalam skala rumah tangga, lingkungan tempat tinggal, perkantoran, dan dimanapun berada dengan memanfaatkan limbah rumah tangga, sampah organik, serta sisa hasil panen.
Di Kota Yogyakarta ada Program Mbah Dirjo atau Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja yaitu sebuah gerakan untuk mengajak masyarakat agar mengelola sampah organik melalui biopori baik secara mandiri di tingkat rumah tangga atau secara komunal dengan biopori jumbo.
Untuk mempelajari proses pembuatan dan pengolahan kompos secara langsung, termasuk observasi terhadap alat, bahan, serta teknik inovatif yang digunakan dalam produksi kompos di Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, maka Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Konversi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta melakukan kunjungan edukasi pada Rabu, 22 Januari 2025.
Tamu diterima Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sukidi, S.E., M.Si. di ruang rapat Mas Kirana. Sukidi menyampaikan paparan tentang DPP dan Kebun Plasma Nutfah Pisang serta pengelolaanannya.
Ketua Tim Pengembangan Kebun, Moh. Khusnul Latif Alfath dan 14 rekan mahasiswa berharap bahwa hasil dari kunjungan ini dapat diserap, dikembangkan, dan diadaptasi di Kebun Buah dan Eduwisata Bendosari, Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, sebagai tempat KKN mereka.
Narasumber pengelolaan kompos di DPP disampaikan oleh Sagio, S.P. selaku Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) DPP sekaligus penggiat dan praktisi pertanian, pemilik grup facebook Berbagi Tips Berkebun, juga sebagai host di Chanel YouTube Dari Kami Untuk Kamu (DKUK). Jebolan Sarjana Pertanian dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta ini membagi tips praktis membuat kompos padat dan cair.
Sagio menyampaikan pembuatan kompos dari limbah tanaman yang ada di lingkungan DPP. Limbah di Kebun Plasma Nutfah Pisang berupa batang pisang atau gedebok pisang/pelepah pisang, daun pisang, rumput hasil penyiangan, serta sampah organik lainnya.
Limbah organik bila tdk dikelolah dengan bagi akan menyebabkan masalah, sehingga Dinas memanfaatkan limbah yang kaya unsur hara membuat tanah tetap subur dan gembur.
Langkah pembuatan kompos:
1. Membuat lubang pada lahan atau wadah tempat kompos
2. Bahan organik (Gedebog/daun-daun) dicacah
3. Bahan organik yg sdh dicacah masuk ke lubang
4. Disemprot EM4 sebagai aktivator
5. Setelah penuh ditutup tanah/terpal, setiap seminggu sekali diaduk dan dibalik
6. Lama penutupan 1-2 bulan untuk mengalami pengomposan sempurna.
Ada variasi pembuatan kompos dengan campuran kotoran hewan yaitu, sampah organik (rumput dll) dicampur kotoran kambing, disemprot EM4 ditutup terpal.
Kita juga dapat membuat Pupuk Organik Cair (POC) dengan cara sampah organik rumput dicampur kohe kambing dicampur gedebog pisang (1:1:1) ditutup 1-2 bulan, setelah itu disiram air, air siraman ditampung menjadi POC. Pengaplikasian POC ke tanaman diencerkan perbandingan 1:10
Manfaat kompos untuk masyarakat antara lain:
1) Mengurangi Limbah:
Sampah organik rumah tangga dan sisa hasil panen tidak terbuang sia-sia, mengurangi volume sampah di lingkungan.
2) Meningkatkan Kualitas Tanah
Kompos memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, dan mendukung pertumbuhan tanaman.
3) Penghematan Biaya
Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal.
4) Mendukung Pertanian Berkelanjutan:
5) Membantu petani menghasilkan tanaman lebih sehat dan ramah lingkungan.
6) Pemberdayaan Ekonomi
Kompos yang dihasilkan dapat dijual atau digunakan untuk memperbaiki produktivitas kebun
